KURIKULUM SEBAGAI STRATEGI KEBUDAYAAN

Kurikulum Sebagai Strategi Kebudayaan

Ibnu Hamad
Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemdikbud

Strategi kebudayaan, merujuk pendapat lima pakar berikut ini, adalah pergeseran peradaban suatu kelompok masyarakat. August Comte menyebutkan bahwa peradaban manusia bergeser dari mitos ke metafisis dan akhirnya positivis.
Menurut Van Peursen pergeseran bergerak dari alam mitis, lalu ontologis, kemudian fungsional. Dissanayake melihatnya dari pertanian, masuk industri, lantas informasi.
Alvin Toffler berpendapat awalnya manusia yang dianggap hebat adalah yang punya otot kuat, kemudian yang punya modal besar berupa uang dan lahan, dan akhirnya yang menguasai informasi. Sedangkan Ziauddin Sardar menulis, masyarakat bergerak dari sejarah ke kesadaran menuju peradaban (umran).

Ilmu Pengetahuan dan Strategi Kebudayaan
Ada dua kesamaan dari kelima ahli tersebut. Pertama, entah kebetulan atau tidak, kelimanya seakan sepakat bahwa setiap pergeseran peradaban ditandai oleh 3 (tiga) tahap, dan selalu mengarah kepada penonjolan rasionalitas, yang berakibat pada terjadinya kesamaan yang kedua: bahwa ilmu pengetahuan merupakan komponen utama pergeseran peradaban. Semakin baik penguasaan sebuah masyarakat atas beragam ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) semakin mendekati kepada tahap yang ketiga--apapun namanya.

Dan, seperti sudah kita maklumi, berbicara penguasaan iptek pasti kita menyinggung pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya: formal, nonformal, infomal; sains murni maupun ilmu terapan; sarjana, profesi, atau vokasi; sekolah, pusat pelatihan, tempat kursus, kelompok belajar maupun otodidak. Melalui pendidikan, iptek bukan sebatas ditransfer dari tenaga pendidik kepada peserta didik, melainkan pula berlangsung proses inovasi (penemuan baru) bahkan invensi (lompatan) sehingga membuahkan konsep, teori, paradigma, metodologi dan teknik yang baru, hingga terjadilah pergeseran peradaban itu.

Dan, seperti sudah kita ketahui pula, pendidikan yang baik (: sistematis dan terarah) selalu memiliki kurikulum. Dalam proses pendidikan, kurikulum merupakan inti dari pendidikan itu sendiri. Sebabnya adalah kurikulum itu terdiri dari empat komponen yang terkait satu sama lain: standar kompetensi lulusan (SKL), standar isi, standar proses, dan standar evaluasi. Dengan keempat komponen ini pendidikan menjadi bisa diukur efesiensi dan efektivitasnya. Tentu saja semakin baik sebuah kurikulum, termasuk kesesuaian antara rumusan di atas kertas dan praktiknya di lapangan, semakin besar harapan terjadinya perubahan sosial ke arah yang lebih baik. Karena itu, perubahan kurikulum juga mesti dilihat dan dirancang serta diterapkan sebagai bagian dari upaya perbaikan kehidupan sosial, disamping peningkatan kualitas pendidikan itu sendiri.

Strategi Kebudayaan pada Kurikulum 2013
Lantas, bagaimanakah dengan implementasi Kurikulum 2013; akankah membawa kita, khususunya peserta didik, ke tahap ketiga dalam strategi kebudayaan tersebut? Jawabnya, lihatlah kembali keempat komponen utama kurikulum itu: SKL, standar isi, standar proses, dan standar evaluasi. Seperti apakah keberadaan keempatnya dalam Kurikulum 2013?
SKL dalam Kurikulum 2013 menekankan pentingnya penguatan kompetensi sikap (spiritual dan sosial) setiap lulusan. Untuk mencapai kompetensi ini, semua mata pelajaran diupayakan untuk berkontribusi terhadap pembentukan sikap, disamping pada pengembangan pengetahuan dan keterampilan. Untuk penyusunan standar isinya, Kurikulum 2013 memakai pendekatan scientific base: ilmu pengetahuan digunakan sebagai penggerak pembelajaran untuk semua mata pelajaran. Fenomena alam, sosial, dan budaya menjadi muatan bahan ajar.

Untuk sistem pembelajarannya dipakai pendekatan active learning yang mendorong siswa untuk mengamati (observing), menanya (questioning), menalar (associating), mencoba (experimenting) dan membentuk jejaring (networking). Siswa didorong untuk mencari tahu, bukan diberi tahu [discovery learning]. Kemampuan berbahasa menjadi sarana komunikasi sekaligus pembawa pengetahuan dan berfikir logis, sistematis, dan kreatif.
Dengan sistem pembelajaran seperti ini diharapkan terbentuk siswa yang kreatif, inovatif, produktif, dan afektif. Kelas pun dirancang sedemikian rupa guna menghidupkan keberanian siswa untuk mencoba, menilai sendiri apa yang kurang jelas/lengkap informasinya, memiliki interpretasi sendiri terkait dengan pengetahuan atau kejadian yang diamatinya.

Adapun sistem evaluasinya, bersifat holistik yang tidak hanya mengandalkan output (: nilai ujian akhir) melainkan juga memperhatikan proses (: sikap dan prilaku) siswa. Disamping soal ujian diarahkan pada pertanyaan yang mebutuhkan pemikiran mendalam (bukan sekedar hafalan), portofolio pembelajaran siswa baik kurikuler, non kurikuler maupun ekstrakurikuler juga dijadikan salah satu acuan evaluasi.

Dengan desain dan implementasi seperti itu jelas Kurikulum 2013 didedikasikan untuk mencapai generasi yang diinginkan oleh tahap ketiga strategi kebudayaan itu. Digunakannya pendekatan scientific base dalam pengembangan materi pelajaran memberi harapan tercapai generasi positivis menurut Comte dan masyarakat fungsional ala Van Peursen. Kenapa, karena orang-orang positivis seperti halnya kaum fungsional senantiasa memakai pendekatan ilmiah dalam menghadapi fenomena alam, sosial dan budaya.

Dengan dipakainya strategi active learning dalam proses pembelajaran akan menghasilkan masyarakat informasi versi Dissanayake dan Toffler. Betapa tidak, karena dalam active learning tindakan-tindakan pencarian, pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, dan penemuan kembali informasi menjadi basis pembelajaran. Lambat laun, hal itu akan membentuk kebiasan dan penghargaan atas informasi, dalam hal maknanya, jumlahnya dan kegunaannya.

Dengan ditempuhnya sistem penilaian holistic evaluation akan terbentuk generasi yang membangun peradaban (umran) menurut Sardar. Sebagaimana dimaklumi, peradaban sebuah bangsa tidak bisa dilihat hanya dari hasilnya tetapi yang lebih penting dari prosesnya. Di balik artefak-artefak yang menakjubkan dari sebuah peradaban kita menyadari proses pencapaian prestasi-prestasi gemilang peradaban tersebut.
Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk melihat hasil sebuah kurikulum dalam kerangka strategi kebudayaan; yaitu sekitar 12 hingga 18 tahun jika dihitung dari peserta didik mulai bersekolah hingga mereka memasuki usia dewasa atau dunia kerja. Sebab, pada saat itulah hasil pembelajaran dengan Kurikulum 2013 --sikap, keterampilan dan pengetahuan-- akan diuji dan atau dibuktikan.

Sesuai agenda dari Kemdikbud, implementasi Kurikulum 2013 dimulai Juli 2013. Jadi, baru antara tahun 2025 dan 2030 kita akan melihat hasilnya; masih satu hingga dua dasawarsa kedepan. Namun, seperti biasanya kita sering merasakan begitu cepatnya waktu berjalan. Semoga ketika saatnya tiba, kita semua sudah siap untuk ikut serta dalam pergeseran peradaban ke tahap ketiga strategi kebudayaan itu. Toh, pemain utamanya adalah para lulusan yang mengenyam Kurikulum 2013! Kita akan selalu ingat hal itu. ***

Sumber: kemdiknas.go.id


SHARE

Milan Tomic

Hi. I’m Designer of Blog Magic. I’m CEO/Founder of ThemeXpose. I’m Creative Art Director, Web Designer, UI/UX Designer, Interaction Designer, Industrial Designer, Web Developer, Business Enthusiast, StartUp Enthusiast, Speaker, Writer and Photographer. Inspired to make things looks better.

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Translate